Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 September 2019

Istri Perwira Dituntut Harus Paham Tugas Dan Peran Suami


TNI AU. Sebagai Istri seorang perwira dituntut untuk mampu memahami tugas dan peran suami sebagai prajurit Angkatan Udara. Oleh sebab itu ibu-ibu harus memberikan dukungan optimal berupa dukungan moril yang berlandaskan atau bersumber dari lingkungan keluarga yang harmonis.
Demikian Ketua Umum PIA Ardhya Garini Ny. Nanny Hadi Tjahjanto  mengatakan saat menyampaikan pembekalan kepada para mantan siswa Setukpa  dan Istri di Gedung Handrawina Lanud Adi Soemarmo, Kabupaten Karanganyar, Senin (20/11).
Lebih lanjut Ketua Umum Pia Ardhya Garini  mengatakan dalam menunjang keberhasilan suami, ada tiga peran yang dituntut dari ibu-ibu yang kesemuanya harus dapat dilakukan dengan baik, serasi dan seimbang.
Ketiga peran tersebut adalah peran istri sebagai pendamping suami, peran sebagai ibu rumah tangga dan peran sebagai warga masyarakat, jelas Ketua Umum PIA Ardhya Garini.
 Di akhir pembekalan Ketua Umum PIA Ardhya Garini  menyampaikan beberapa  hal, khususnya bagi mantan siswa Wanita Angkatan Udara,  yaitu tugas utama Wara sebagai militer adalah mengabdikan dirinya kepada negara dan bangsa sesuai bidang masing-masing dengan dilandasi oleh rasa kesetiaan dan loyalitas  serta berjuang tanpa pamrih, pungkasnya.


Sumber : https://tni-au.mil.id/seorang-istri-perwira-dituntut-pahami-tugas-dan-peran-suami/

Lika Liku Yang Harus Siap Dihadapi Jika Menjadi Istri Pria Berseragam


Mungkin bagi beberapa cewek, memiliki suami dari kalangan militer ataupun polisi adalah mimpi yang selalu dipanjatkan dalam doa. Menjadi istri seorang suami yang pekerjaannya mengabdi kepada negara tidaklah semudah yang dibayangkan. Ada suka duka yang terselip di balik kehidupan rumah tangga yang harus dijalankan. Saat sudah memutuskan untuk memiliki suami dari kalangan pria berseragam, saat itu pula kehidupan baru dimulai dengan konsekuensi yang harus diterima. Ini hanya sebagai referensi tentang bagaimana lika-liku perjalanan pernikahan dengan pria berseragam yang mungkin ada di antara kamu yang akan segera merasakannya.

Menikah dengan pria berseragam jadi kebanggaan tersendiri. Begini rasanya menuju pelaminan dengan suami yang mengenakan seragam kebanggaannya

Ada kebanggaan tersendiri saat bisa bersanding dengannya di pelaminan. Saat pasangan lain ‘hanya’ mengenakan pakaian adat seperti kebanyakan, dia tampak gagah dengan seragam yang dikenakan. Hari itu aku bilang pada dunia bahwa akulah wanita paling beruntung di seluruh jagat raya ini. Akupun berterimakasih pada Tuhan atas nikmat yang tak terkira ini.

Tapi, setelah itu harus siap akan cinta yang sering terbagi. Antara dia dan negara

Tugasnya sudah barang tentu mengabdi pada negara. Tak kenal kapan, di mana dan sedang apa, menjadi istri seorang tentara atau polisi sudah pasti harus siap kapanpun suami dipanggil tugas. Entah itu tengah malam atau sedang tanggal merah. Terkadang sedih juga. Tapi apa mau dikata, begitulah resiko bersuamikan pria berseragam. Toh saat melamar dulu, hal ini menjadi yang paling utama dibicarakan dan sering untuk diingatkan. Baiklah, sebagai istri, aku harus kuat dan mendukung apapun yang dilakukannya dalam pekerjaan.

Kata orang, memulai adalah hal yang paling sulit. Begitu juga saat menemani perjuangan suami di awal karirnya

Menikah saat suami baru saja memulai awal karir rasanya seperti bayi yang baru saja belajar berjalan. Tertatih, pelan-pelan, kadang pakai jatuh, tapi bangkit, berdiri dan mulai jalan lagi. Banyak cerita menyebutkan bahwa orang tua akan membuka peluang lebih besar untuk anak gadisnya jika ada pria yang datang dengan seragamnya daripada hanya seorang ‘laki-laki biasa’.
Orang menganggap dipinang pria berseragam sudah pasti akan terjamin kehidupannya. Nyatanya, kemampuan mengelola keuangan adalah salah satu yang juga harus dimiliki seorang istri dari para pria berseragam ini, karena pendapatannya kadang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan belum bisa disisihkan untuk masuk tabungan.


Sumber : https://www.hipwee.com/wedding/7-lika-liku-saat-menjadi-istri-pria-berseragam-siap-ditinggal-untuk-mengabdi-adalah-salah-satunya/

 


Berikut ini kisah penuturan dari seorang istri TNI:


Menikah dengan seorang TNI itu tantangannya berat sekali dari persiapan menikahnya pun sedikit ribet, perlu syarat berkas nikah kantor, sampe ACC & menghadap Komandan2nya.

Suami saya seorang perwira TNI AU lulusan AAU 2009 dan sekarang berpangkat Lettu dari kesatuan Paskhas

Sekarang usia pernikahan kami sudah 1 Tahun 1 Bulan, sayangnya kami belum dikaruniai seorang anak, karena kondisi kami terus berjauhan. Suami saya sedang tugas Pam Satgas di Puncak Jaya dan saya tidak dapat ikut serta bersama dia kecuali kalau sedang kedinasan di batalyon, maka saya bisa ikut suami dinas.

Begitu banyak tantangan tetapi juga banyak kebahagiaan yang kami rasakan, tentunya perasaan rindu yang teramat sangat karena lama tidak bertemu.

Suasana Batalyon Paskhas yang saya temui sangat hangat seperti Batalyon Inf. yang pernah saya tempati dulu (Ayah seorang Perwira TNI AD & sudah Alm). Ibu-ibu pengurus dan anggota PIA Ardhya Garini sebutan untuk ibu persitnya di TNI AU sangat ramah dan baik, selagi kita bisa menjaga diri di sana.

Kuncinya kata mereka, menjaga penampilan/pakaian, menjaga sikap, menjaga perkataan dan saling menghormati. Tentu mereka akan tetap menghormati kita, apalagi jika pangkat suami adalah perwira dan ada tingkatan2nya. dari Komandan Batalyon, Wakil Komandan, Danton (Perwira Letda & Lettu) dari AAU, Wamil & Secapa.

Kembali ke persoalan jauh2an sama suami tadi. Kita sebagai istri seorang TNI harus berjiwa kuat, tegar, gagah dan dapat dipercaya, harus mandiri ketika suami tidak dapat membantu di saat kondisi kita harus berjuang sendiri.

Istri TNI pun tidak boleh cengeng, dan wajib menjaga diri dan nama baik keluarga dari hal2 yang tidak diinginkan. Tentunya seorang TNI jg selektif sekali dalam memilih calon istri dan calon ibu untuk anak2nya kelak. TNI mencari istri yang sederhana dan mandiri serta sabar

Sebagai istri TNI saya dituntut untuk sabar dan kuat. Ya beginilah pengorbanan istri TNI yang di nomor dua kan dari pada tugas mereka dalam menjaga NKRI. Sebagai istri ada baiknya selalu mendo'akan suami agar selalu diberikan kesehatan, keselamatan serta perlindungan selama mereka bertugas. dan tentunya berdoa agar suami gak macem2 di sana.

Jadi seorang calon istri TNI harus kuatkan mental sebelum menikah dengan TNI. Persiapkan mental dengan segala konsekuensi dan kesepakatan bersama.




Minggu, 01 September 2019

16 Syarat + 5 Test Jadi Istri TNI. Jangan Kaget Apalagi Ragu Yaa !!

Berbagi Inspirasi - Menjadi istri prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus menanggung konsekuensi yang tak mudah.

Ya, tugas pokok utama prajurit militer adalah menjaga keutuhan NKRI, yang mana tak jarang mereka harus ditugaskan menjaga perbatasan. Militer memiliki aturan ketat kedinasan, begitu juga sampai ketentuan menikah (Foto Cover: Foto Istri Tentara: Annisa Pohan dan Winda Khair. Sumber: style.tribunnews.com).

Calon istri prajurit TNI harus melengkapi berbagai syarat yang ditetapkan institusi terkait.
Satu di antaranya adalah test keperawanan.
Nantinya istri-istri prajurit militer ini akan tergabung pada sebuah organisasi yang bernama Persit Kartika Chandra Kirana untuk TNI AD, Pia Ardhya Garini (TNI AU), dan Jalasenastri (TNI AL).

Organisasi tersebut guna menghidupkan silaturahmi antaristri anggota TNI dan pendampingan terhadap kinerja suami.

Sebelum menghadap ke kesatuan, sang calon istri harus melengkapi berbagai dokumen yang cukup rumit. Berikut adalah syarat – syarat pernikahan dengan anggota TNI sebelum menemui pejabat di kesatuan calon suami.

1. Surat permohonan izin nikah, surat ini diurus calon suami sebagai anggota TNI yang ditanda tangani oleh komandan kompi. Surat – surat ini sebanyak sepuluh lembar.

2. Surat kesanggupan calon isteri yang ditandatangani bermaterai 6000 oleh calon istri yang diketahui oleh aparat desa setempat.

3. Surat persetujuan orangtua atau wali calon istri yang ditandatangani oleh orangtua calon istri yang diketahui oleh aparat desa domisili orang tua atau wali calon istri.

4. Surat keterangan belum menikah, surat ini diketahui oleh aparat desa setempat atau KUA setempat.

5. Surat keterangan menetap orang tua, orang tua calon istri diketahui oleh aparat desa dari domisili orang tua atau wali.
6. Surat bentuk sampul D, surat ini dapat diperoleh dari kodim atau koramil yang berada pada tempat domisili calon istri dan orang tua, antara lain berisikan:  Surat ditujukkan untuk Komandan Kodim, surat ditujukan ke Pasi Intel, surat ditujukan untuk Pasi Ter, dansurat ditujukan untuk Danramil. Hal ini ditujukkn untuk menyelidiki dan mencari tahu apakahan calon istri dan orang tua calon isteri pernah mengikuti gerakan atau organisasi yang melanggar persatuan dan kesatuan NKRI (Negara Keesatuan Republik Indonesia).

7. Dokumen N1 untuk menyatakan surat akan menikah yang ditandatangani orangtua dan istri serta diketahui oleh aparat desa.

8. Dokumen N2 untuk menyatakan asal–usul calon istri dan orangtua yang diketahui aparat desa setempat.

9. Dokumen N4 untuk menyatakan keterangan tentang orangtua calon istri yang diketahui oleh aparat desa setempat.

10. Surat Pernyataan dari calon istri dan calon suami yang diketahui oleh aparat desa setempat
11. SKCK calon istri dan kedua orang tua.
12. Ijazah pendidikan terakhir calon istri.
13. Akte kelahiran calon suami dan calon istri.
14. Foto copy KTP calon istri dan kedua orang tua calon isteri
15. Pas foto gandeng 6×9 menggunakan pakaian PDH dan Persit tanpa lencana berlatar biru sebanyak 12 lembar.
16. Pas foto calon istri 4×6 menggunakan pakaian Persit sebanyak 5 lembar.

Menurut pengalaman pribadi reporter TribunStyle.com yang juga merupakan anggota Persit KCK, saat dokumen syarat pernikahan lengkap, baru menghadap ke kesatuan bersama calon suami.
Kemudian, harus menjalankan serangkaian test tertentu, di antaranya:

1. Pemeriksaan Litsus (Penelitian Khusus)

Pada tahap ini calon istri juga diuji soal pengetahuan di bidang pendidikan dan kewarganegaraan. Begitu juga soal pandangannya mengenai organisasi terlarang di NKRI, seperti PKI.

2. Pemeriksaan Kesehatan (Rikes)

Pemeriksaan kesehatan atau yang biasanya dilakukan di Rumah Sakit khusus TNI, di sana calon suami dan istri harus melakukan pemeriksaan dari kesehatan jantung, urin, cek darah, rontgen dada, dll.
Menurut pengakuan reporter TribunStyle.com yang tak mau disebutkan namanya, saat test kesehatan inilah ditanya perihal soal keperawanan oleh petugas.

Ada sebagian yang benar-benar diuji, ada juga yang cukup dengan 'modal saling percaya'.

Begini kurang lebih percakapan yang terjadi saat test keperawanan tersebut menurut reporter kami.

'Mbaknya asal mana?'
'Saya Solo, pak, (test kedinasan saat itu di Jakarta)'
'Sudah melakukan hubungan seperti itu dengan calon suami?'
'Saya tidak pernah melakukannya, Bapak.'
'Sudah jujur saja, nanti juga bakal ketahuan saat di test!' desak petugas.
'Ya, monggo, pak. Saya tidak masalah dan tidak takut soal itu, saya berani saja, karena saya benar-benar tidak pernah melakukannya dengan calon suami saya," ujar reporter TribunStyle.com tegas.
Tak lama kemudian, sang petugas mempersilakan ke luar. 
Selanjutnya, seperti biasa menjalankan test kesehatan di bagian lainnya. 

3. Pembinaan Mental (Bintal)

Pada tahapan ini, calon istri dan suami harus menghadap ke Disbintal TNI untuk mendapat pembinaan sebelum menikah.
Di sini calon suami dan istri dipersilakan menjawab soal kepribadian masing-masing hingga diuji pengetahuan agamanya.
Biasanya petugas juga menyuruh untuk membaca ayat suci Al-quran (bagi yang beragama Islam) untuk ditinjau pengetahuan rohani.
Setelah rangkaian tersebut, petugas akan memberikan 'wejangan' atau nasihat bagi kedua pasangan yang akan menjalani bahtera rumah tangga.

4. Menghadap ke pejabat kesatuan.

Setelah berbagai prosedur lengkap, calon istri dan suami menemui pejabat kesatuan institusi tempat suami bekerja untuk melaporkan syarat administrasi yang telah dilakukan.
5. KUA

Usai syarat lengkap dari kedinasan sang suami, baru bisa mengajukan ke KUA, menikah secara catatan sipil.
Sumber : https://berbagi-inspira.blogspot.com/2017/02/jangan-kaget-inilah-16-syarat-dan-5.html

 

Selasa, 27 Agustus 2019

Kuatnya Hidup Istri Prajurit Pasukan Khusus, Ditinggal Tidak Menentu


Kerasnya hidup menjadi seorang anggota TNI pastinya juga dirasakan keluarga prajurit tersebut.
Sebagai manusia biasa, perasaan kehilangan, khawatir, saat ditinggal tugas oleh suami yang seorang prajurit TNI pasti selalu ada. Apalagi jika daerah tugas yang dituju adalah daerah rawan konflik dan dalam waktu yang cukup lama.

Apalagi menjalani hidup sebagai seorang prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tentu tidak akan sama seperti manusia biasa.
Bukan saja tingginya disiplin, tapi pernahkah kita menelisik bagaimana cara mereka bergaul dengan keluarga, terutama istri dan anak.
Tentu menjadi istri dari anggota pasukan khusus TNI AD membutuhkan mental yang kuat. Itu karena latihan dan operasi-operasi tempurnya yang dilakukan pasukan ini memang penuh rahasia.
Sebagai gambaran, seorang wanita yang bersuamikan seorang prajurit Kopassus sudah sangat biasa ditinggal pergi suaminya, tanpa mendapat informasi jenis dan juga lokasi suaminya bertugas.
Kadang, para prajurit Kopassus sendiri baru diberi tahu jenis dan lokasi misi tempurnya, saat berada di pesawat terbang atau kapal laut yang mengangkutnya.


Sumber :
https://jambi.tribunnews.com/2018/08/26/kuat-kerasnya-hidup-istri-tni-ditinggal-suami-demi-misi-rahasia-yang-entah-dimana-keberadaannya?page=all.